Selasa 1 Desember 2009 : Kunjungan Sang “Presiden”

Selasa 1 Desember 2009 : Kunjungan Sang “Presiden”

0 45260

Yes 11:1-10,
Mzm 72:2, 7-8, 12, 13, 17
Lukas 10:21-24

Lukas 10:21 Pada waktu itu juga bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus dan berkata: “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu.

Mengawali bulan Desember ini, saya ingin mengajak anda untuk memejamkan mata sejenak.
Ya, pejamkan mata anda sekarang!

Bayangkan tiba-tiba anda mendapat kunjungan dari Presiden USA. Presiden Barack Obama. Presiden Obama tanpa pemberitahuan sebelumnya, tiba-tiba saja berkunjung ke rumah anda. Presiden Obama hanya mampir sejenak dan mengajak anda untuk makan siang di rumah anda.
Mungkin anda saat itu belum mandi. Rumah juga masih berantakan.
Baju dan handuk masih bertebaran sedang di jemur di halaman depan rumah.
Barang-barang di ruang tamu masih berantakan disana-sini.
Pokoknya tidak layak untuk dikunjungi oleh seorang Presiden. Presiden Amerika lagi!

Di tengah-tengah khayalan anda sedang makan bersama Presiden Obama, tiba-tiba saya pun menepuk pundak anda dan mengatakan ”Ayo buka mata anda! Ayo bangun, sudah cukup mimpi di siang bolong!!”
Nah sekarang, bagaimana perasaan anda mendapatkan kunjungan seorang Presiden?
Bangga? Senang? Terharu? Merasa tak percaya? Shock? Kaget?
Atau semua perasaan itu campur aduk serasa makanan gado-gado pedas berisi 5 lombok?

Itulah yang dilakukan Yesus 2000 tahun yang lalu. Ia yang Putra Allah mau menjadi manusia. Ia yang lebih besar dari Presiden manapun di dunia ini mau datang ke dunia ini. Ia datang ke dunia ini karena begitu besar kasihNya pada kita semua. Ia tidak sekedar ‘mengunjungi’ rumah kita namun IA hidup di tengah-tengah kita. Bahkan sampai saat ini pun IA tidak sekedar ada di sekitar kita, tapi IA hidup di hati kita.
Anda shock? Kaget? Tapi itulah kenyataannya. Bukan mimpi dan bukan juga khayalan.

Mempercayai Yesus yang hidup dan mengalami kasihNYA tidak berdasarkan seberapa pintar kita. Tidak berdasarkan seberapa tinggi pendidikan kita. Namun seberapa besar hati kita mau terbuka untuk mendengar firmanNya, mengalami dan merasakan kasihNYA dalam hidup kita.

SIMILAR ARTICLES

0 47931

NO COMMENTS

Leave a Reply